Sejarah Pesantren Tebuireng yang Didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, Awalnya Berupa Bangunan Anyaman Bambu
Sejarah Pesantren Tebuireng yang Didirikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari, Awalnya Berupa Bangunan Anyaman Bambu /Pexels/Becca Siegel
- Pondok Pesantren Tebuireng merupakan salah satu bukti perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari.
Kiai Hasyim Asy’ari merupakan pendiri Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Selain itu, Kiai Hasyim Asy’ari juga merupakan penggagas resolusi jihad santri. Hal penting yang melatarbelakangi peringatan Hari Santri nasional setiap 22 Oktober.
Kiprah Kiai Hasyim Asy’ari sebagai tokoh agama maupun tokoh nasional menjadikan para santri berjihad bukan hanya demi agama Islam, melainkan juga untuk bangsa Indonesia.
Hadirnya Pondok Pesantren Tebuireng turut menjadi tonggak penting lahirnya para santri yang turut menjaga keerdekaan bangsa Indonesia.
Dilansir PortalJember.com dari berbagai sumber, berikut ini sejarah Pondok Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari.
Pondok pesantren Tebuireng didirikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Pondok pesantren Tebuireng terletak di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Adapun nama Tebuireng sebenarnya bukan berasal dari nama asli daerah tersebut. Nama Tebuireng berasal dari cerita rakyat yang dipercaya oleh masyarakat.
Pada zaman dahulu, terdapat seorang penduduk yang memiliki kerbau berkulit kuning. Suatu hari, kerbau tersebut menghilang ditemukan dalam keadaan hampir mati karena terperosok di rawa-rawa yang banyak dihuni lintah.
Tubuh kerbau tersebut dipenuhi oleh lintah sehingga kulit kerbau yang semula berwarna kuning berubah menjadi hitam.
Peristiwa tersebut menyebabkan pemilik kerbau berteriak "Kebo ireng" atau "Kerbau hitam". Sejak sat itu, dusun tempat ditemukannya kerbau tersebut dikenal dengan nama Kebo Ireng.
Perkembangan masyarakat menjadikan Dusun Kebo Ireng berubah menjadi Dusun Tebuireng. Hingga saat ini belum diketahui mengapa bisa berubah menjadi Tebuireng.
Pada akhir abad ke-19, di sekitar Tebuireng bermunculan pabrik milik asing, terutama pabrik gula Cukir (Tjoekir).
Para penduduk diuntungkan karena banyaknya lapangan pekerjaan baru. Akan tetapi, para penduduk tersebut belum siap menghadapi era baru di bidang industri.
Ketergantungan rakyat terhadap pabrik kemudian berlanjut pada penjualan tanah-tanah rakyat yang memungkinkan hilangnya hak milik atas tanah.
Kondisi itu menyebabkan keprihatinan pada diri Kiai Hasyim Asy’ari. Oleh karena itu, Kiai Hasyim Asy’ari kemudian membeli sebidang tanah milik seorang dalang terkenal di dusun Tebuireng.
Pada tanggal 26 Rabiul Awal 1317 H (bertepatan dengan tanggal 3 Agustus 1899 M), Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan sebuah bangunan kecil yang terbuat dari anyaman bambu.
Bangunan kecil dari anyaman bambu itu disekat menjadi dua bagian. Bagian belakang dijadikan tempat tinggal Kiai Hasyim Asy’ari bersama istrinya, Nyai Khodijah, dan bagian depan dijadikan tempat salat (mushola).
Bangunan dari anyaman bambu tersebut merupakan sejarah awal berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Saat itu santrinya berjumlah 8 orang dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.
Kehadiran Kiai Hasyim Asy’ari di Dusun Tebuireng tidak langsung diterima dengan baik oleh masyarakat. Kiai Hasyim Asy’ari menerima berbagai gangguan, fitnah, bahkan teror untuknya dan para santri.
Gangguan-gangguan tersebut berlangsung selama dua setengah tahun, sehingga para santri disiagakan untuk berjaga secara bergiliran.
Kiai Hasyim Asy’ari merasa gangguan tersebut tidak kunjung mereda. Akhirnya, Kiai Hasyim Asy’ari mengutus seorang santri untuk pergi ke Cirebon, Jawa Barat, untuk bersilaturahmi dengan Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Panguragan, Kiai samsuri Wanantara, dan Kiai Abdul Jamil Buntet.
Keempat kiai tersebut merupakan sahabat dekat Kiai Hasyim Asy’ari. Mereka sengaja didatangkan ke Tebuireng untuk melatih pencak silat dan kanuragan selama kurang lebih 8 bulan.
Bekal ilmu pencak silat dan kanuragan menjadikan para santri lebih berani menghadapi gangguan yang datang. Bahkan, para pengganggu tersebut juga seringkali beradu fisik dengan Kiai Hasyim Asy’ari.
Kiai Hasyim Asy’ari dapat mengatasi para pengganggu dengan mudah. Oleh karena itu, banyak di antara mereka yang kemudian meminta diajari ilmu pencak silat dan bersedia menjadi murid Kiai Hasyim Asy’ari.
Pada akhirnya, Kiai Hasyim Asy’ari dipercaya oleh penduduk sekitar. bahkan, Kiai Hasyim Asy’ari telah dianggap menjadi guru dan pimpinan warga.
Selain dikenal memiliki ilmu pencak silat, Kiai Hasyim Asy’ari juga dikenal ahli di bidang pertanian, pertanahan, dan produktif dalam menulis. Hal tersebut menambah kepercayaan masyarakat lantaran sebagian besar berprofesi sebagai petani.
Kepercayaan masyarakat kepada Kiai Hasyim Asy’ari menjadikan santri Pondok Pesantren Tebuireng bertambah banyak dan datang dari berbagai daerah seperti Jawa dan Madura.
Bermula dari 28 orang santri pada tahun 1899, kemudian menjadi 200 orang pada tahun 1910, dan 10 tahun berikutnya melonjak menjadi 2000an orang, sebagian di antaranya berasal dari Malaysia dan Singapura. Pembangunan dan perluasan pondok pun ditingkatkan, termasuk peningkatan kegiatan pendidikan untuk menguasai kitab kuning.
Banyak tokoh agama terkemuka yang pernah belajar di Pondok Pesantren Tebuireng. Bahkan, berdasarkan data pada masa pemerintahan Jepang tahun 1942, jumlah kiai dan ulama di Pulau Jawa telah mencapai 25 ribu orang.
Sebagian besar kiai dan ulama tersebut tercatat pernah belajar di Pondok Pesantren Tebuireng. Hal tersebut menunjukkan besarnya pengaruh Pesantren Tebuireng dalam pengembangan dan penyebaran Islam di Jawa pada awal abad ke-20.
Pondok Pesantren Tebuireng pada masa Kiai Hasyim Asy’ari merupakan pusat pesantren di tanah Jawa.
Memasuki akhir abad ke-20, Pondok Pesantren Tebuireng menambah beberapa unit pendidikan, seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY, kini IKAHA).
Beberapa unit tersebut kini ditambah lagi dengan Madrasah Diniyah, Madrasah Mu’allimin, dan Ma’had Aly, disamping unit-unit penunjang lainnya seperti Unit Penerbitan Buku dan Majalah, Unit Koperasi, Unit Pengolahan Sampah, Poliklinik, Unit Penjamin Mutu, unit perpustakaan, dan lain sebagainya (akan dijelaskan kemudian).
Beberapa unit di atas (selain UNHASY), merupakan perwujudan dari perkembangan Pondok Pesantren Tebuireng.***
Belum ada Komentar untuk "Sejarah Pesantren Tebuireng yang Didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, Awalnya Berupa Bangunan Anyaman Bambu"
Posting Komentar