Mengenal Sifat Nabi Bagian II : Amanah

 


Setelah sifat shiddiq, sifat Nabi selanjutnya yang penting untuk diketahui adalah amanah. Apa makna amanah dan bagaimana penerapan amanah dalam hidup Nabi? Berikut ini akan dijelaskan secara global.

Kata amanah yang berasal dari bahasa Arab ini sudah diserap dalam bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 47), amanah berarti: pesan yang dititipkan kepada orang lain untuk disampaikan, keamanan, ketentraman dan kepercayaan.

Dalam bahasa Arab, kata amaanah berasal dari kata amina-ya’munu-amaanatan yang artinya jujur dapat dipercaya (Kamus Munawir, 42) Kata ini seakar dengan kata iman yang artinya percaya. Makna lain dari kata “amina” adalah aman, tentram dan selamat. Sedangkan orang yang amanah disebut amiin.

Mengenai sifat amaanah Nabi, bisa dibaca dalam surah Al-‘Araf ayat 68. Dalam ayat ini, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam menyebut dirinya sebagai naashihun amiin (pemberi nasihat yang terpercaya). Demikian juga dalam surah asy-Syu’ara, kata “amiin” (yang terpercaya) juga disebutkan dalam beberapa ayat di dalamnya dengan ungkapan “rasulun amin” (Utusan Terpercaya). Bisa dibaca dalam ayat 107, 125, 143, 162 dan 178.

Kata “rasulun amiin” diungkap ketika mengisahkan tentang Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth dan Syu’aib ‘Alaihimus Salam. Syekh As-Sa’di dalam tafsir “Taisir Al-Karim Ar-Rahman” menafsirkan kata amiin atau amaanah dalam surah Asy-Syu’ara itu dengan Rasul kepercayaan yang tidak berdusta atas Allah, tidak menambah-nambah dan mengurangi wahyu. Dengan demikian mereka wajib dipercayai dan ditaati.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pun, bila hayatnya dibaca, baik sebelum atau sesudah menjadi Nabi, beliau dikenal sebagai orang yang amanah, jujur dan terpercaya. Di antara kisah yang masyhur dalam sirah Nabi mengenai sifat amanah ini adalah saat beliau berusia 35 tahun.

Waktu itu, pasca renovasi Ka’bah, terjadi perselisihan antar kabilah atau suku mengenai siapa yang akan mendapat kehormatan meletakkan hajaw aswad. Menurut catatan Shafiyyur Rahman, perselisihan itu berlangsung sampai empat atau lima hari tanpa ada keputusan. Bahkan, kian meruncing dan nyaris terjadi pertumpahan darah.

Melihat kondisi sedemikian mencekam, akhirnya Abu Umayyah bin Al-Mughirah menyodorkan solusi. Katanya, siapa saja yang pertama kali masuk melalui pintu masjid, maka dialah yang akan mendapat kehormatan meletakkan hajar aswad. Mereka setuju, dan pertumpahan darah pun bisa dielakkan.

Rupanya, orang yang pertama kali melewati pintu itu adalah Muhammad bin Abdullah. Ketika mereka melihat beliau, mereka pun berbisik, “Inilah al-Amin. Kami rida kepadanya. Inilah dia Muhammad.” Pilihan mereka sungguh tepat. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pun meminta sebuah selendang kemudian para pemuka kabilah memegang ujungnya dan diminta mengangkat bersama-sama. Ketika hajar aswad sudah mendekati posisi, kemudian Nabi meletakkan di posisi semula. Mereka pun puas dengan cara ini.

Kisah lain, mengenai amanah Nabi, adalah ketikah hijrah, Nabi tidak lupa berpesan kepada Ali bin Abi Thalib untuk menggantikan posisi tidurnya, untuk mengelabui orang-orang kafir Quraiys dan yang tak kalah penting adalah untuk menyampaikan amanah atau titipan yang selama ini dipercayakan kepada beliau. Amanah ini disampaikan secara sempurna sehingga ketika Nabi di Madinah tidak ada sangkutan apapu dengan orang-orang di Mekah. Bayangkan! Pada situasi yang genting sekali pun, beliau masih mengingat untuk menjalankan amanah.

Sifat amanah ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,” (QS. An-Nisa [4]: 58) Dalam tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa makna ayat ini adalah perintah Allah tentang menyampaikan kewajiban-kewajiban yang dipercayakan dari seseorang kepada yang berhak menerimanya.

Ayat ini turun ketika Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu hendak mengambil kunci Ka’bah dari Usman bin Thalhah secara paksa, yaitu saat Nabi datang ke Mekkah pada Fath Makkah (Pembebasan Kota Mekkah), Usman pun tak mau memberikannya.

Ketika itu ia berkata, “Seandainya saya tahu bahwa ia Rasulullah, tentulah saya tidak akan menghalanginya.” Akhirnya, Nabi menyuruh Ali mengembalikan kunci itu ke Usman sembari berkata, “Terimalah ini untuk selama-lamanya tiada putus-putusnya.” Dengan akhlak luhur Rasulullah ini, akhirnya Usman masuk Islam. Sampai akhir hayat, kunci itu diamanahkan pada Usman.

Dari beberapa cerita itu, nyatalah bahwa Nabi adalah pilihan Allah yang selalu menjaga sifat amanah. Sifat ini bukan saja menyangkut hubungan horizontal dengan sesame makhluk, tapi juga kepada Sang Pencipta. Karena itulah ada pesan tegas dari Allah kepada Rasulullah, “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 67) Dan selama mengemban amanah menjadi Nabi, beliau tidak pernah mengurangi atau menambah-nambah perintah Allah. Beliau mengerjakan sesuai dengan yang diperintahkan-Nya.

Dari sifat Nabi ini, pembaca bisa mengambil teladan baik, di antaranya: memegang teguh sifat amanah dalam kehidupan. Amanah ini berlaku bukan sesama manusia tapi juga kepada Allah. Sosok yang amanah adalah yang menunaikan amanah manusia dengan sangat baik dan dalam waktu bersamaan juga menjalankan amanah Allah dengan seabik-baiknya.

Belum ada Komentar untuk "Mengenal Sifat Nabi Bagian II : Amanah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel