Kisah Keajaiban Pemilik Warung Makanan yang Selamat dari Lahar Panas Gunung Semeru
Selamat dari guguran awan panas Gunung Semeru menjadi nilai hidup paling berharga bagi warga Lumajang, Jawa Timur.
Tak terkecuali bagi Nur Hasanah (40 tahun), pemilik warung makanan yang tepat berada persis di selatan jembatan besuk kobokan atau yang dikenal dengan nama jembatan gladak perak. Jembatan titik nol ini menjadi penghubung antara Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Namun Jembatan dengan panjang 192 meter tersebut runtuh karena terdampak lava pijar erupsi Gunung Semeru pada Sabtu (4/12) lalu.
Nur Hasanah mengaku tidak sempat mengetahui kejadian runtuhnya jembatan besuk kobokan, karena saat kejadian ia bersama delapan pelanggan di warungnya langsung kabur menyelamatkan diri.
"Saya tidak tahu kapan jembatannya putus, karena sekitar pukul 14.45 WIB, turun hujan abu bersamaan dengan hujan cukup deras dan tiba-tiba langit gelap. Saya langsung dibonceng salah satu pelanggan di warung untuk lari," ungkap Nur Hasanah kepada Sariagri, Kamis (9/12).
Bahkan saat menyelamatkan diri, ia tidak sempat menyelamatkan satu barang pun di warung. Dirinya baru berani kembali melihat warung setelah empat hari pasca erupsi.
“Hari keempat ini, saya bersama para relawan dibantu petugas kepolisian melihat kondisi warung. Alhamdulillah, saya selamat dan anehnya warung saya tidak roboh. Sungguh ajaib, masih tetap kokoh berdiri meski kotor luarnya kena abu vulkanik semeru, “ terangnya dengan sumringah.
Ajaib, warung makanan tetap berdiri kokoh meski terkena awan panas Gunung Semeru. (Arief L/Sariagri)
Meski demikian, satu unit sepeda motor milik suaminya hancur terpapar abu dan dipastikan tidak bisa dipergunakan lagi. Setiba di dalam warung, sebagian barang seperti kompor, teko, piring, wajan yang rusak dibiarkannya dan tidak diambil. Sementara makanan ringan dan bahan kebutuhan lainnya seperti kopi, mie, susu instan, popok bayi langsung dikemasi.
“Dibantu pak polisi, barang-barang yang masih bisa dibawa langsung saya kemasi. Termasuk tabung elpiji masih selamat, ada 10 unit langsung diangkut,“ bebernya.
Dalam kesempatan itu, Nur Hasanah juga melihat runtuhnya jembatan gladak perak yang selama ini memberinya penghasilan dari berjualan.
“Biasanya para sopir yang melakukan perjalanan ke Malang lewat Lumajang selalu menyempatkan berhenti di sini untuk ngopi dan makan di warung saya, sambil menikmati view sungai di bawah jembatan yang dibangun tahun 1998 ini, “ ucapnya seraya menunjuk ke jembatan besuk kobokan yang putus.
Video Terkait
Belum ada Komentar untuk "Kisah Keajaiban Pemilik Warung Makanan yang Selamat dari Lahar Panas Gunung Semeru"
Posting Komentar