Keutamaan Duduk di Majelis Ilmu

 


Keutamaan Duduk di Majelis Ilmu

Suatu hari, Abu Waqid Al-Laitsi bercerita, bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersama sahabatnya di masjid, tiba-tiba tiga orang datang, dua orang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara yang satunya pergi.

Saat keduanya berdiri dihadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keduanya mengucap salam. Salah satunya melihat celah di halaqah (majelis) lalu duduk di celah itu, yang satunya duduk di belakang mereka sementara yang lain pergi berpaling.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam usai, beliau bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَأَوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang tiga orang itu? Salah satunya berlindung kepada Allah lalu Allah memberinya perlindungan, yang lain merasa malu lalu Allah malu padanya, sedang yang lain berpaling, maka Allah berpaling darinya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan Tirmidzi. Statusnya shahih. Diriwayatkan oleh sahabat bernama Abu Waqid Al-Harits. Beliau masuk Islam pada saat Pembukaan Kota Mekkah. Ikut serta dalam Perang Hunain dan Yarmuk. Dalam catatan ulama hadits, beliau telah meriwayatkan 21 hadits. Beliau wafat di Mekkah pada tahun 88 H. Umurnya saat itu 65 tahun.

Dalam hadits ini diceritakan ada tiga tipe orang dalam melihat majelis ilmu. Pertama, orang yang berusaha mendekat, menampati majelis yang kosong dan ikut menyimak dalam majelis.

Dalam kitab “Manaar al-Qaari” dijelaskan bahwa orang tipe pertama ini adalah orang yang mendekatkan dirinya kepada Allah dan berkumpul dalam majelis ilmu bersama Nabi. Karena itulah, menurut penjelasan Nabi, Allah mendekat kepadanya dan memasukkannya pada keridaan-Nya. Kelak pada hari kiamat, dia akan dilindungi oleh Allah.

Adapun orang yang kedua, karena tidak menemukan tempat atau celah yang kosong, maka ia duduk di belakang majelis. Ia malu kepada Allah berdesakan dengan mereka sehingga memilih duduk di belakang. Ia tetap duduk hingga majelis itu selesai.

Allah malu pada orang kedua ini. Maksudnya, Allah menerima alasannya dan memasukkannya pada golongan majelis dan mendapatkan keutamaan dan pahala seperti mereka.

Sedangkan yang terkhir, tidak mau duduk di majelis. Ia langsung pergi. Maka Allah berpaling darinya. Maksudnya ia pergi karena tidak suka dengan majelis ilmu sehingga mendapat murka Allah. Dampak minimalnya, dia tidak mendapat kemulian dan pahala orang dalam majelis ilmu.

Hadits ini mengajarkan banyak pelajaran. Pertama, adab dalam majelis ilmu. Orang yang baru datang, duduk di tempat yang masih kosong. Jika, ruang sudah penuh, bisa duduk di belakangnya.

Kedua, majelis ilmu banyak mengandung kemuliaan dan kebaikan. Bahkan di hadits lain disebut sebagai taman surga.

Ketiga, anjuran untuk mencintai dan membersamai orang-orang dalam majelis ilmu. Atas izin Allah, orang yang demikian akan mendapat keutamaan dan pahala sebagaimana mereka. (MBS)

Belum ada Komentar untuk "Keutamaan Duduk di Majelis Ilmu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel